Senin, 25 Januari 2016

He Chose the Nails (Max Lucado)


Cover "He Chose the Nails"

Judul: He Chose the Nails
Pengarang: Max Lucado
Penerbit: Gospel Press
Tahun Terbit: 2002
Halaman: 232 halaman

Max Lucado adalah tipikal penulis buku yang cerdas. Di bagian awal tulisannya, ia memasukkan ilustrasi terkait poin yang hendak dibahasnya. Ilustrasinya menarik, pada umumnya menceritakan dirinya, keluarganya, atau lingkup aktivitasnya di berbagai tempat. Awal mula saya menyukai buku rohani adalah sejak saya memiliki beberapa bukunya. Yang pernah saya baca adalah "Temukan sweet spot anda!" . Niat saya membaca buku itu untuk mendapat pencerahan untuk pergumulan panggilan hidup. Namun, ada satu bagian di dalam buku itu yang tanpa saya duga malah membawa saya pada keindahan perumpamaan kisah di Perjanjian Lama, yaitu tentang pohon-pohon yang sedang mencari raja pohon atas diri mereka. Really interesting! Sempat lama saya gumulkan apa makna dari kisah itu, tapi Max sendiri punya analisisnya untuk perumpamaan tersebut. Bagian lengkapnya dari "Temukan sweet spot anda!" ini mungkin di kesempatan lain akan saya sharingkan karena pada dasarnya semua orang punya pergumulan terkait panggilan hidupnya. I really hope that the existence of this book reminds us to have right value and correct perspective. 

He Chose the Nails, diterjemahkan ke judul bahasa Indonesianya sebagai Ia Berkorban untuk Kita, terdiri dari 15 bab. Dalam masing-masing bab itu, diulas seluruh elemen terkait kesengsaraan Yesus, terutama di hari penyaliban Tuhan Yesus hingga ke kebangkitan-Nya. Melalui ludah para prajurit, mahkota duri, paku-paku, tulisan di atas kayu salib, kedua salib di kiri dan kanan salib Yesus, jalan setapak, jubah-Nya, daging yang tercabik-cabik, bunga karang yang direndam dalam anggur, darah dan air, kayu salib-Nya sendiri, baju pemakaman, hingga makam-Nya yang kosong, Max memaparkan betapa besar dan agung-Nya kasih Anak Allah yang lahir sebagai manusia, menghadapi pergumulan-pergumulan manusia, dan menanggung dosa umat manusia sekalipun Ia tidak berdosa! 

Poin yang menarik di dalam bab yang berjudul "Janji Allah dalam Paku-paku" adalah tangan Tuhan Yesus menerima dengan rela paku-paku yang ditancapkan pada telapak-Nya, dan kaki-Nya pun tidak melawan pada saat Ia dipaku di kayu salib-Nya. Padahal tangan itu adalah tangan yang mahakuasa. Kita tahu bahwa tangan itulah yang membentuk Adam dari debu tanah dan mengukir kebenaran pada loh batu. Dengan satu lambaian, tangan ini menjatuhkan menara Babel dan membelah Laut Merah. Dari tangan ini beterbangan belalang yang menjadi wabah di Mesir dan burung gagak yang membawa pangan ke Elia. Tetapi tinju itu tidak dikepal...dan saat itu tidak dibatalkan. Sebesar jangkauan kedua tangan-Nya yang terpaku dan membentang pada kayu salib, Tuhan Yesus menunjukkan kasih-Nya yang berusaha merangkul kita untuk menerima anugerah penebusan-Nya.

Apa Yesus tidak bisa menghentikannya? Dengan menegangkan otot-Nya, dengan mengepal tinju-Nya, ia bisa melawan. Bukankah ini tangan yang sama yang meredakan badai di laut? Membersihkan Bait Allah? Membangkitkan orang mati? (Max Lucado)


Satu bab lainnya yang juga favorit saya, berjudul "Janji Allah dalam Darah dan Air" mengingatkan bahwa pekerjaan Allah (pengudusan-Nya) berlangsung di dalam manusia secara posisional dan progresif. Allah memulainya untuk kita dan Ia terus bekerja di dalam diri kita. Di masa perjanjian lama, persembahan yang berkenan bagi Allah dinyatakan melalui kurban bakaran dari penumpahan darah sebagai bentuk penyucian dosa. Tetapi itu berhenti di kayu salib dengan pengorbanan Putera Allah. Darah tak berdosa tak lagi diperlukan karena kita telah "dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus" (Ibrani 10:10). Dan air yang menghidupkan itu adalah Roh Kudus. Karya penebusan Allah melalui darah-Nya yang tercurah sudah terjadi satu kali, sudah selesai, tetapi Roh Kudus-Nya terus bekerja untuk mengubah kita. Ketimpangan pada salah satu pengudusan ini bisa jadi disebabkan respon kita sebagai manusia. Beberapa dari kita menerima darah tetapi melupakan air; ingin diselamatkan tetapi tidak ingin diubah. Yang lain lagi menerima air tetapi melupakan darah; sibuk bagi Kristus tetapi tidak merasakan damai di dalam Kristus. Ada baiknya juga kita renungkan, apakah kuasa darah dan air itu sudah seimbang dalam iman kita terhadap Tuhan Yesus?

Kelima belas bab yang ada di buku ini dikemas secara unik oleh Max Lucado. Di dalam setiap babnya, simbol-simbol sengsara Yesus diberikan makna dan penjelasan digali dari sudut pandang alkitabiah. Simbol-simbol ini dijelaskan dalam suatu rangkaian perjalanan salib Yesus dari satu bab ke bab lainnya. Memaknai Tuhan Yesus adalah perjalanan hidup yang tiada henti bagi setiap pengikut-Nya. Ayat alkitab yang sama akan memberikan pengertian yang berbeda dan bahkan lebih dalam lagi ketika dimaknai dalam konteks yang tepat. Buku ini bisa dijadikan salah satu media untuk lebih mendalami ayat-ayat alkitab yang mungkin sudah sering kita dengar. 

Oleh karena buku ini merupakan buku terjemahan, ada beberapa bagian yang tidak dapat saya nikmati, khususnya di bagian akhir tulisannya biasa diberikan istilah/ jokes tertentu untuk mempersuasi pembaca. Namun, dalam terjemahannya ini, istilah/ jokes tersebut saya rasa agak crunchy (garing) sehingga saya tidak merasa itu lucu walaupun saya menangkap maknanya. Juga merupakan kebiasaan Max untuk menyisipkan renungan berisi pertanyaan di akhir tulisannya. Panduan renungan ini bisa jadi media untuk lebih mendalami poin-poin di dalam tulisannya. Tapi saya pribadi cenderung malas mendalami pertanyaan tersebut karena menurut saya terlalu banyak dan secara penempatan, aneh jika diletakkan di belakang tulisannya. Akan lebih baik jika pertanyaan tersebut disederhanakan dan diletakkan di bagian akhir tiap bab sehingga saat hendak membaca bab selanjutnya, pembaca dapat mengingat sejenak poin yang didapat dari bab sebelumnya.




Jakarta,  25 Januari 2016

Rabu, 20 Januari 2016

Matahari Tengah Malam (A Novel by Marga T)

Gambar 1. Cover Novel "Matahari Tengah Malam"
Cantik.. Itu bisa jadi keadaan fisik yang disadari banyak perempuan, tapi tidak bagi Zita.. Kalau di masa kini, banyak orang yang yakin akan keindahan rupanya sehingga banyak yang senang foto-foto sendiri (istilahnya: selfie), rasanya itu jauh dari keyakinan Zita. Zita yakin dia itu jelek, ga ada indah-indahnya, dan cuma orang di level yang sama yang bisa nyantol ama dia. Maksudnya, level yang melihat dia menarik mestinya ya yang otaknya agak miring, agak rendah gitu secara IQ. 

Elroi Pakasa, laki-laki yang dikagumi Zita dan menghadirkan cinta di hatinya, hanya singgah sebentar saja. Tanpa diduga, Zita menemukan fakta bahwa Elroi tak mencintainya dengan tulus dan mendekatinya untuk membuat kakak perempuannya, Amrita, cemburu. Amrita, lebih dikenal orang sebagai Daria, adalah artis kenamaan ibukota. Banyak aktivitas di dunia hiburan dan berbagai penghargaan yang didapatnya seakan mendaulat Amrita sebagai wanita cantik penuh prestasi.

Zita bukan Amrita. Zita sering merasa iri terhadap kecantikan kakaknya. Ia melarikan dirinya berkutat dengan pelajaran-pelajaran dan menyibukan diri dengan ilmu kedokteran yang dijalaninya. Setelah ia menamatkan studinya di Amerika Serikat, Zita diminta membantu bisnis hotel ayahnya, Pak C.P. Burai. Di saat-saat itulah, ia bertemu dengan Ken Pika, anak dari calon donatur yang diharapkan membantu bisnis tersebut. Ketika ia mulai melabuhkan lagi hatinya pada pria ini, ia menjadi sosok yang kembali mengecewakan Zita. Ken Pika malah melamar kakaknya, Amrita. 

Zita senang ikut tur dan menjelajahi berbagai daerah yang unik. Saya pernah membaca kutipan Paulo Coelho, kira-kira begini bunyinya, "Travel often. When you lost yourself, you get yourself." Pencarian ini rupanya dibutuhkan pula oleh Zita. Di buku ini diceritakan, ia pernah tur ke Machu Pichu, suatu kota yang berisi kebudayaan purba suku Inca di negara Peru. Selain itu, Zita diceritakan pernah ke Khyber Pass, suatu daerah yang menghubungkan Kabul dan Peshawar. Di Khyber Pass ini, ia bertemu Steve Caldwell, seorang sahabat yang menyamankan hati Zita, terutama setelah ia kembali ke Indonesia. Saat ia galau menghadapi pernikahan kakaknya dengan Ken, ia berniat "kabur" dengan mengikuti tur ke Skandinavia. Dan surpriseeenya adalah di tur ini ia bertemu dengan seorang Indonesia, yang menjadi rekan sejawat di tempat kerjanya. 

Awalnya, Zita berpikir pria ini orang iseng karena terus menagihnya uang pinjaman saat tur di Skandinavia. Namun, ia malah seorang yang menarik, berbeda dari teman-teman cowok Zita yang juga bekerja dan menjadi sejawat di tempat yang sama. Nama pria ini adalah Nuki Titus. Zita menangani "Penyakit Anak" dan Nuki di bidang "Kebidanan". Dua bidang ini bertempat di lantai yang sama, Klinik Sabara-Birka, yang berlokasi di Puncak. "Pucuk di cinta, ulam pun tiba".. Yah mungkin karena faktor area kerja yang berdekatan, keduanya pun sering berpapasan, terutama sering 'bertabrakan' saat sama-sama sedang berjalan cepat di area lorong klinik. Perjalanan romansa Zita-Nuki bagaimana, yah dinikmati sajalah dengan membaca bukunya langsung.

Di buku ini ada banyak istilah kedokteran, mungkin karena saya memiliki latar belakang farmasi, istilah ini tidak begitu baru, tapi tentunya ini menjadi hal yang memperkaya pemahaman pembaca akan dunia kedokteran. Lewat "Matahari Tengah Malam" ini, kita jadi mengetahui sulitnya menjadi dokter, yaitu diagnosa. Jika terjadi kesalahan diagnosa, pasien bukannya sembuh, malah bisa mengalami komplikasi yang lebih parah. Ada berbagai kasus pasien yang ditangani Zita secara mendalam. Penanganan dan anjuran untuk penyakit-penyakit dalam buku ini bisa jadi ilmu baru juga untuk keluarga terkasih. Ide cerita baik sekali, alurnya sederhana dan mudah diikuti. 

Secara penilaian rasa, saya kurang dapat greget indahnya romansa antara Zita dan Nuki. Mungkin Marga sensei terlalu menekankan pada Elroi sehingga porsi kedekatan Zita dan Elroi lebih dominan daripada Zita-Nuki. Yang saya maklumi dari kisah mereka adalah Nuki pribadi yang di luar ekspektasi Zita, tidak pernah dibayangkan untuk mampir di hatinya, malah seringnya bikin kesel, bukan deg-degan. Justru, emosi Zita dibuat campur aduk setiap berurusan dengan Nuki dan itu jadi turn point yang merubah perasaan benci jadi cinta (jatuh cinta amboi indahnya).. hehehe.. Mungkin karena novel lawas yah, jadinya beberapa perumpamaan saya nilai kurang bisa dimaknai sesuai tren saat ini (tahun 2016 gituh).. hehehe.. Juga ada beberapa kata yang tidak saya ketahui maknanya, seperti 'mengumpak'.. apa yah artinya, saya lupa teks lain yang mengiringinya.

Secara keseluruhan, buku "Matahari Tengah Malam" baik untuk dibaca penggemar novel-novel lawas. Yang ditawarkan Marga sensei adalah orisinalitasnya, di mana ia menulis dengan kreativitas yang didasarkan pengalamannya di dunia kedokteran. 


  
Jakarta, 21 Januari 2016


Minggu, 20 Desember 2015

N A D I R A ( A novel by Leila S. Chudori )

 Gambar 1. Cover Buku "Nadira" (edisi pembaharuan dari "9 dari Nadira")

Nadira adalah judul sebuah novel yang baru saya ketahui keberadaannya pada 5 Desember 2015 lalu. Oleh karena seorang teman yang aktif dalam even Goodreads Indonesia menyebutkan nama seorang pengarang asal Indonesia yang baru pertama kali saya dengar, saya tertarik untuk mencari tahu tentang pengarang tersebut. Saya tidak tahu apakah dia sungguh mengagumi pengarang tersebut karena telah membaca buku-bukunya atau mungkin karena kesenangannya membaca sehingga dia memiliki informasi yang banyak yang tersiar dalam website Goodreads Indonesia. Entahlah, tapi saya bersyukur dia mau mensharingkan informasi tentang pengarang tersebut melalui media sosial sehingga saya pun tahu tentang pengarang tersebut dan karyanya.

Gambar 2. Saya dan Bu Leila di even Festival Pembaca Indonesia, Goodreads 2015(kiri ke kanan)
Perempuan itu bernama Leila S. Chudori. Saya menjumpainya di Festival Pembaca Indonesia yang diselenggarakan di Synthesis Square, Gatot Subroto. Oleh karena sebelumnya telah searching di google (hehe) , saya pun tahu wajah perempuan itu. Dan aslinya jauh lebih cantik daripada yang saya lihat di google. Agak nekat sih, tapi karena ada dorongan dalam hati untuk bisa mengenal sosok wanita ini, saya pun memberanikan diri untuk mendekatinya bahkan minta foto bersamanya! Hahaha.. Kalau dipikir secara nalar, tindakan ini agak nonsense mengingat bahkan saya belum baca bukunya! Haha.. Tindakan ini agaknya masuk ke kategori aneh bin ajaib. Ajaibnya adalah saya tidak menyesal! Haha.. Saya pernah mendengar bahwa orang normal sulit untuk mencapai kesuksesan, dan umumnya harus sedikit mungkin cukup gila untuk menjadi sukses. Memang berdasarkan pengalaman saya, saya sempat mengalami hal-hal yang belum sepatutnya saya lakukan karena belum waktunya, tapi toh saya lakukan itu dengan nekat. Jadi, hal ini bukan masalah besar toh. Kembali ke keajaiban itu, saya tidak menyesal karena ternyata memang beliau adalah sosok pengarang yang menghasilkan karya brilian.

Awalnya dikenal banyak orang sebagai "9 dari Nadira", namun yang saya dapati dari Gramedia Grand Indonesia adalah "Nadira". Beda keduanya adalah "9 dari Nadira" tampaknya memuat 9 bab cerita pendek terkait sosok Nadira, dan "Nadira" adalah penyempurnaan kisah "9 dari Nadira" yang telah ditambahkan 2 bab baru, yaitu " Sebelum Matahari Mengetuk Pagi" dan "Dari New York ke Legian". Nadira, seperti wanita pada umumnya, juga berjuang dalam kehidupannya di dunia kerjanya, keluarganya, dan hubungannya dengan pria di sekitarnya. Nadira lahir dan besar dalam asuhan keluarga yang penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya, namun juga seperti keluarga lainnya yang tidak bebas konflik, Nadira memiliki pergumulan batin dengan saudara sekandungnya, Yu Nina. Klimaks berada di awal cerita, yaitu kisah kematian ibu kandungnya, Kemala Suwandi. Hingga akhir bab dalam novel Nadira ini, tak dipaparkan secara pasti penyebab bunuh diri yang dilakukan ibu Nadira. Nadira pun sejak saat ia menemukan ibunya tergeletak di lantai kamar tidurnya dalam keadaan tubuh biru dan mulut berbusa karena telah menelan pil tidur hingga bertahun-tahun kemudian masih menyimpan rasa ingin tahu apa dasar keputusan ibunya untuk menghabiskan nyawanya, untuk bertemu Tuhannya di hari itu.

Ayah Nadira adalah seorang wartawan senior yang mengenal ibu Nadira semasa mereka sama-sama berkuliah di Amsterdam, Belanda. Perbedaan latar belakang ayah Nadira, Bramantyo Suwandi, yang merupakan anak kyai yang dididik dalam pendidikan Islam NU dengan Kemala, yang merupakan putri Abdi Yunus, seorang konglomerat tanpa kewajiban salat 5 waktu dalam hari-harinya tak menjadi penghalang bagi percintaan mereka. Mereka dikaruniai 3 orang anak, yaitu Nina, Arya, dan Nadira. Nina adalah sosok kakak yang bertanggung jawab, bahkan merasa harus diakui pertanggung jawabannya itu oleh orang tuanya dan begitu ekspresif dibandingkan kedua adiknya. Arya adalah seorang yang perhatian pada kakak dan adiknya, walau pada masa kecilnya begitu nakal dan sering membuat Yu Nina marah. Nadira adalah bungsu yang mewarisi kecintaan ayahnya pada dunia jurnalistik. Pada masa kecilnya, ia sudah menghasilkan uang dari hobinya membuat cerpen. Dan di masa dewasanya, ia bekerja sebagai wartawan di majalah "Tera" dan menangani rubrik "Politik, Hukum, dan Kriminalitas".

Konflik antara Nina dan Nadira sesungguhnya bukan masalah besar karena pada dasarnya hubungan kakak adik yang akrab pun sering diisi perselisihan karena perbedaan pendapat. Namun, pada kasus Nadira-Nina, agaknya ini bermula dari kecemburuan Nina kecil terhadap kasih dan pengakuan Bram terhadap talenta Nadira dalam menulis cerpen yang diterbitkan dalam majalah dan koran, bahkan Bram membingkai karya Nadira tersebut. Nadira bukanlah sosok pendendam terhadap sikap Nina di masa lalu yang pernah dengan teganya menghancurkan bingkai-bingkai cerpennya melalui petasan yang dipersalahkan kepada Arya, namun ia masih menyimpan kemarahan atas perbuatan Nina. Hingga pada usia dewasanya, Nina menjalani sesi konseling dan melakukan terapi emosi bersama psikiater untuk membereskan problem masa lalunya yang belum dituntaskan kepada Nadira. Namun, seiring berjalannya waktu, kunci hubungan Nina-Nadira ini perlahan mulai ditemukan justru setelah Nina melalui masa sulit dalam pemulihannya dari situasi pascaperceraian yang dialaminya dengan Gilang Sukma, sang koreografer handal perayu dan penikmat hubungan bebas itu.

Dunia Nadira berwarna kelabu. Sosok Utara Bayu, sang pimpinan wartawan majalah "Tera" yang secara langsung maupun tak langsung terus mendukung Nadira, tampaknya tidak cukup persuasif untuk mengajak Nadira bangkit dari lubang kubur yang didiaminya. Ya, lubang kubur, itulah istilah tempat Nadira berada sekarang. Dia hidup namun bukan di tengah dunia yang membuatnya hidup. Dia tidak mati, namun hati dan tubuhnya merasa terhimpit batu besar yang menekannya untuk mendiami lubang kubur imaginasinya. Ia menikmati betul ruang kosong, gelap, dan sempit di kolong mejanya. Hingga teman sekantornya menyebutnya "penjaga kolong Tera". Namun, warna kelabu ini berganti menjadi merah jambu ketika ia mengenal Niko Yuliar, seorang aktivis pada zaman perkuliahannya semasa menjadi mahasiswa, yang kini menjadi seorang konsultan permasalahan politik dan ekonomi. Niko adalah seorang pecinta karya sastra sebagaimana Nadira dan Utara Bayu. Ini adalah kutipan Sajak Ibunda dari WS Rendra yang dibacakannya untuk Nadira dan seketika mengubah warna kelabu di hidup Nadira menjadi merah jambu.

"Mengingat ibu,
aku melihat janji baik kehidupan.
Mendengar suara ibu,
aku percaya kebaikan hati manusia.
Melihat foto ibu,
aku mewarisi naluri kejadian alam semesta..."

Tak cukup hanya cinta, kira-kira itulah gambaran mengapa Nadira pun akhirnya meminta bercerai dari Niko. Niko yang memiliki affair dengan beberapa perempuan, bahkan perempuan yang sudah menikah, dan terjadinya setelah mereka berumah tangga, cukup menjadi alasan Nadira untuk meminta pisah. Ya, mereka saling mencintai namun cinta tersebut tak cukup mampu membendung ego yang menguasai diri mereka masing-masing. Nadira dikaruniai Jodi, anak dari hubungannya dengan Niko. Setelah perceraian ini, ia menjalani cuti sabatikal dengan meminta izin Utara Bayu. Awalnya Tara hanya mengizinkan setahun, namun karena Nadira memaksa, ia mengizinkan Nadira menjalani sesuai kehendaknya. Tara agaknya merupakan perwujudan pria masa kini, yang asyik dengan kehidupan kerjanya dan tidak ngoyo dengan urusan asmaranya. Ia tidak cuek, namun perhatian yang dicurahkannya pada Nadira belum cukup mampu untuk menggetarkan dan menggerakkan Nadira untuk meruntuhkan hati gunung esnya. Hingga pada akhirnya, Nina menyadarkan Nadira akan betapa besarnya kasih yang ditujukan bagi Nadira, Nadira tergugah untuk menyelesaikan urusannya yang masih belum selesai dengan Tara. Terlambat memang karena Tara telah mengikat janji dengan Kara Novena, seorang senior wartawan di Tera yang begitu mencintainya namun hingga akhir kisah Nadira, ia tidak mendapatkan hati Tara walaupun Tara sendiri menjanjikannya.

Di penghujung novel ini, bab At Pedder Bay, Nadira menjalani hubungan lamanya yang pernah terurai dengan Marc Gillard, temannya di kampus Victoria, Kanada, sejak 19 tahun silam. Bahkan ia dipertemukan dengan Rick Vaughn, seorang kawan lama yang mengaguminya di kampus yang sama. Dan kisah ini masih akan berlanjut, demikian dijanjikan Bu Leila di akhir pengantarnya. Bahkan akan ada "Catatan Harian Kemala Suwandi", mungkin suatu hari nanti.

Penilaian saya untuk Nadira adalah two thumbs up! Kalau secara rating bintang, saya berikan 4 dari 5 bintang. Alasannya, saya mengharapkan Utara Bayu dapat menjangkau hati Nadira. Yes, I hope for that, Bu Leila.. Terlepas dari kisah cinta yang tak sampai, Nadira sendiri mengajarkan pada saya bahwa seorang perempuan, yang konon adalah makhluk yang halus perasaannya, memiliki kekuatan yang luar biasa. Pada cerita lengkapnya, akan bisa dibandingkan bagaimana cara Nina, Arya, dan Nadira menghadapi duka akibat ditinggal ibunda yang mereka kasihi. Saat Nina memilih kabur melanjutkan S2 atau S3 nya di New York, Arya memilih kabur untuk memperhatikan kehidupan hutan Indonesia, Nadira secara apa adanya menghadapi dukanya dengan bekerja dan mengurus ayahnya, yang juga berduka akibat ditinggal istrinya itu. Berdasarkan apa yang saya alami sendiri, mengurus orang lain ketika kita sendiri tak bisa mengurus diri sendiri dengan benar adalah sangat sulit. Meskipun manusiawi bagi Nadira untuk meluapkan perasaannya dengan bersembunyi di kolong mejanya, itu tidak menjadi kelemahannya. Itu adalah cara Nadira untuk menghadapi dukanya, tak peduli dengan gunjingan burung-burung nazar di kantornya. Menurut saya, Nadira adalah sosok yang nyentrik, ia berupaya menjadi dirinya sendiri saat ia menghadapi duka di tengah kecintaannya akan profesinya dan kehadirannya di tengah komunitasnya. Kekurangan dari novel ini adalah ada teknis redaksional di satu bagian. Secara alur, tulisan dibuat dengan alur maju dan mundur sehingga cukup membuat nalar bekerja untuk menyusun urutan peristiwa yang diurai dalam keseluruhan bab buku ini. Tapi secara keseluruhan, buku ini sangat layak untuk dinikmati.



Jakarta, 20 Desember 2015

Minggu, 06 Desember 2015

Sesuatu itu adalah kamu

yayaya... saya memang lebih sering mikir ketimbang nulis.. dan pada akhirnya sekarang sampai pada suatu titik dimana jiwa saya sendiri meminta kepada tubuh saya, "Wahai tangan tulislah sesuatu".. "Wahai tangan dan otak, bekerjasamalah untuk menghasilkan suatu karya".. Blog ini telah saya buat sejak 25 November 2011 namun ini adalah postingan pertama saya (gak tahu harus bahagia atau sedih :') )

dan inilah pada satu titik dimana separuh jiwa saya akan melayang karena telah saya putuskan untuk resign.. resign dari pekerjaan yang menafkahi saya selama 2,5 tahun tepat di akhir tahun ini.. ada suatu perasaan gamang, suatu kekhawatiran akan masa depan, dalam hal materi, nilai hidup, dan pada akhirnya penilaian orang sekitar.. ketika ada seorang teman yang konon katanya sekarang sudah menjadi manager, berkacalah saya melihat bayangan diri yang masih kelabu.. tapi memang tidak bisa saya paksakan untuk terus bekerja jika cita-cita hidup yang menjadi alasan untuk bertahan hingga saat ini ternyata tidak saya temukan di tempat kerja tersebut.. tak dapat ya tak dapat.. saya heran melihat mereka yang begitu lelet untuk memutuskan berangkat makan siang karena tanggung akan pekerjaannya.. namun saya lebih heran lagi melihat diri saya masih di depan layar komputer untuk mengevaluasi dokumen dan mengurusi beberapa problem di atas meja kerja saya.. ya saya heran.. mengapa kami menjadi budak waktu? mengapa aku tak dapat menikmati waktu kehidupanku yang bagaikan uap air ini (ada lalu lenyap tak berbekas)? dan aku putuskan, kalaupun aku harus gila dengan waktu, itu adalah untuk melakukan sesuatu yang aku cintai, sesuatu yang tak perlu kukhawatirkan akan terjadi kesalahan, sesuatu yang bisa kulakukan kapan kusuka untuk melakukannya, dan sesuatu itu adalah berpikir dan menulis..